Friday, October 3, 2014

Kenapa ndak cerita?

Seperti Matahari yang Bersandar Pada Senja

”..dari semalem??? Kenapa ndak cerita?”


Ponselku terlalu baik, dia nonaktif ketika beberapa kali notifikasi dari perempuan itu mengedip layarnya.
Berharap kesedihanku tertunda, mungkin.
Tapi aku terlalu ingin tahu rangkai hurufnya, hingga setelah kubaca sekujur tumit dan tungkai terasa lapuk. Saat itu dini hari sekali, aku ingin menyapa Tuhan dengan satu rokaat witir sebelum rebah. Dan ternyata takbiratul ikhram sampai sujudku dilinangi air mata. Tidak ada yang lebih menyedihkan dari memohonkan diri untuk berhenti berpura-pura untuk baik-baik saja.
Aku telah berhenti bersedih untuk masa lalu, namun menahankan sakitnya tidak akan semudah itu. Meninggalkan yang telah selesai sama beratnya dengan membiarkan yang belum selesai. Pada banyak gambaran pedih itu aku hanya bisa menumpah tangis. Lemah, ya?
Terlalu banyak kemunafikan yang ada dalam rekam hari kemarin, aku banyak menyimpannya untuk melihat diri lebih dalam lagi. Siapa yang tidak tergelitik hatinya ketika sesuatu yang dengan ikhlas diperjuangkan, dijaga kebaikannya, ditutupi keburukannya, dido’akan kemuliaannya, kemudian menerima tikam dan terputar baliknya cerita? Padahal selama menahankan diri itu tidak pernah terlintas sedikitpun curiga dan dendam atas kesalahan yang berulang termaafkan.
Aku pernah menerimanya, dan lebih lagi, membiasakan diri untuk mengikhlaskan.

Percayalah bahwa ternyata aku tidak sekuat itu.
Pada diam atau senyum-senyum kecil terdapat letih yang biasa hilang seketika setelah menemuimu.
Bisakah kau tetap berdiri dengan sederhana di samping kiriku? Maka aku akan segera merasakannya lagi.
Seperti matahari yang bersandar pada senja,
jingga…

No comments: