Thursday, October 2, 2014

Urip Mati ku tanggunganMu, Gusti Allah




Urip Mati ku tanggunganMu, Gusti Allah. Aku mung pasrah. Kabeh mesti ono batese. dear tuhan Ini berat, Tuhan. Tapi Kau memelukku lebih erat dari biasanya
nampaknya kau lebih suka mengajak aku bercanda di dunia di  dunia yang fana ini, kau masih ingin aku menikmata semua yang sementara ini. semua yang engkau berikan dan hingga datang cemburumu sewaktu waktu kau bisa mengambilnya lagi dariku. lalu aku hanya bisa menangisi kehilanganku dan menertawai jalan hidupku yang kau berikan. 

Duhai, tuhan meski belum pernah sekalipun kutemui, izinkan hatiku menghadapmu. Kerinduanku timpang, menderas dalam kering air mata

dan engkau cahaya kemerah merahan yg kusebut itu senja
Aku paham keberakhiran ini seperti terpaksa bermimpi buruk pada keinginan bangun pagi.
Matahari sudah dingin, kita bagai nyalakan kembang api di siang hari.
Hujan di matamu mengembun di mataku, hingar bingar petasan seakan membaur dengan teriak dalam batin. Kita tertawa, getir berlebih dari tajam pecahan cermin. Cermin yang memantul kemegahan cinta kita.
Aku paham keberakhiran ini cepat atau lambat menenun sesak dari benang-benang karma. Kau pakaikan padaku gaun kematian, ku antarkan padamu pusara, di sana terkubur peti berisi draft pidato pernikahan kita. Sementara di tengah perjalanan, sisa nafas cukup menghidupi dada yang tertawa — inicuma lelucon, kan?
Aku paham keberakhiran ini menyisa selasar pundak kiri penuh debu yang menunggu kunjung kepala resah bersandar menghembuskan rindu. Pula sisa-sisa kehangatan pada lengan yang saling bertaut jika kalut dan takut menyekap kebersamaan kita.
Mengenang itu semua, hiasan kecil di sepanjang tahun berat yang pernah kita jalani bersama:
Pedih.
Aku paham keberakhiran ini harus segera ditamatkan.
Ya, Aku masih jadi boks penyimpanan terbaikmu. Dan, Kau, masih jadi relikui kebahagiaanku.
Jadi sebaiknya kita harus sama-sama tenang. Bukankah kita biasa menangis bersama?
Lalu setelah pelukan demi pelukan, kita segera menetas bibir yang tertawa.
…hanya saja pelukan itu harus segera dikebumikan, biar lebur segala mimpi dengan tanah yang tabah, biar tumbuh kembali sebagai tunas kamboja baru, meneduh di semayam rahasia-rahasia yang cuma milik kita.

No comments: